Jumat, Oktober 07, 2011

HINDAR Karya Bella Jo, written by @ikiiey

Langit malam semakin gelap. Waktu beranjak cepat, berpindah dan berganti tanpa bosan-bosannya. Semilir angin yang menabrak dedaunan memberi peringatan pada setiap orang yang bernaung di bawah langit saat itu, hujan akan turun malam ini. Namun angin tak bisa menembus tebalnya tembok satu rumah, di mana seorang gadis sedang terlelap di salah satu kamarnya.
Lihat selengkapnya >>
RING DING DONG RING DING DONG

Diggi ding diggi ding ding ding...

Bunyi itu terdengar samar di telinga si gadis yang masih memejamkan mata. Namun dering itu terdengar semakin keras. Perlahan ia membuka matanya, pandangannya masih kabur. Ia mendapati sosok yang ia kenali sudah berdiri sambil berkacak pinggang di samping tempat tidurnya. Lelaki itu menyodorkan ponsel berwarna merah ke arahnya.

"Mira, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, ponselmu berisik kali dari tadi!!" Ucap lelaki itu judes. Mira mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti, "Apa, bang? Siapa yang nelpon?"
"Mana Abang tahu! Lihat aja sendiri, noh!" Ucap lelaki itu sambil meletakkan benda tipis di tangannya ke samping gadis yang rambutnya masih acak-acakan itu. Mira menguap lebar lalu menekan tombol hijau ponselnya, "Halo?" Sapanya dengan nada ngawur, mulutnya masih terbuka lebar.
"Halo, Mir!"
Mira tertegun di tempatnya. Ia mengenali suara riang ini, suara lelaki yang kadang-kadang saja bisa ia dengarkan keceriaannya. "Karel?!" Pekiknya kaget. Yang disebut hanya tertawa renyah, "Pasti baru bangun tidur, ya? Nampak kali baru loading...," goda lelaki itu. Mira tersenyum.
"Apa kabar? Udah lama Karel nggak nelpon Mira..."
"Baik-baik aja. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Gunung Merapi di Yogya. Mau aku kirimin oleh-olehnya nanti?" Tawarnya langsung. Mira berpikir sejenak lalu menjawab, "Nggak. Dari pada Karel kirimin oleh-oleh, mending Karel aja yang pulang ke Medan!" Ucapnya. Karel terkekeh di seberang sana, " Nanti aku pulang kalau ada waktu libur lainnya. Ya udah, deh. Aku cuma mau ngasih tau itu aja."
"Hati-hati, ya, Rel!"
"Iya. Malam!"
"Malam..."
Mira menjauhkan ponselnya dari telinga. Senyumannya mengembang lebar. Namun perlahan senyuman itu pudar, hatinya menangkap satu firasat untuk menghindari sesuatu.

***


Hari berganti dengan cepat. Sudah dua minggu berlalu dan Mira tidak pernah mendapat telpon dari Karel lagi sejak saat itu. Ia sudah mencoba menelpon sahabatnya sejak kecil yang pindah ke Semarang lima tahun lalu itu, namun nomornya sudah tidak aktif lagi. Mungkin saja Karel menukar nomor ponselnya dengan nomor baru dan akan menelpon Mira nanti.

Gadis berkerudung itu terduduk lesu sambil menatap layar ponselnya. Ia mengharapkan pesan dari Karel, hanya untuk sekedar tahu kalau sahabat baiknya itu sehat-sehat saja. Dan kalau berkenan, mungkin mau berbagi cerita tentang liburannya ke Yogya waktu itu. Gadis itu menghela nafas panjang. Akhirnya ia memilih untuk membalik-balik halaman buku Biologinya, membaca untuk menghabiskan waktu. Maklum saja, ia sudah jadi siswi kelas 3 SMA.
Tiba-tiba seseorang menyenggol mejanya. Mira mendongakkan kepalanya spontan. Ia terpatung begitu melihat wajah orang yang sempat membuyarkan konsentrasinya itu. "Maaf," ucap orang itu singkat lalu langsung kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Nggak apa-apa...," bisik Mira takut-takut. Matanya mengikuti ke mana orang itu pergi. Mira menelan ludah gugup. Ada helaan nafas lega yang ia hembuskan, bersyukur karena tidak perlu berurusan lama dengan orang tadi.
Orang tadi adalah Bella, teman sekelas Mira yang aneh dan agak nyentrik. Entah apa yang membuatnya selalu bertingkah aneh dan tertutup. Bahkan gadis yang seumuran dengannya itu tidak begitu suka bersosialisasi dengan warga kelas lain dan memilih untuk duduk sendiri di sudut belakang kelas dari pada mengobrol atau tertawa bersama. Anehnya lagi, Bella selalu membawa kucing bersamanya dan sering memakai benda-benda serba hitam. Sudah banyak guru yang menegurnya, tapi semua teguran itu ia patahkan dengan alasan tidak ada peraturran sekolah yang dilanggarnya lewat kelakuannya itu.
Hanya satu orang yang dekat dengan Bella, itupun karena keduanya sudah berteman sejak mereka masih kecil. Orang itu adalah orang yang sedang bicara dengan Bella sekarang, Didit. Dia lelaki berkulit gelap, berambut cepak, dan terkenal dengan ekskul rohis dan paskibranya. Tak ada yang mengerti kenapa kedua orang yang saling bertolak belakang itu bisa bersahabat sampai sekarang. Mungkin itu memang sudah takdir yang tak terhindarkan.
Didit sendiri orang yang cukup pendiam. Hanya segelintir orang yang bisa ngobrol santai dengannya, namun tak satupun wanita selain Bella. Dibanding dengan gadis nyentrik itu,
Didit jauh lebih bersahabat dengan orang lain, bahkan sangat aktif di kelas.

Mira terus menatap keduanya tanpa bisa mengalihkan pandangan, entah kenapa ia begitu penasaran dengan percakapan keduanya.

"Aku nggak mau," ucap Bella tegas, dengan nada cueknya yang biasa. Mira menguping pembicaraan mereka. Didit tampak kesal dan tidak terima, namun masih tetap berusaha tenang, "Kenapa? Aku kan cuma menyarankan hal yang baik kepadamu...," kilahnya. Bella mendengus, kedengarannya mengejek, "Mungkin itu hal baik menurutmu, tapi nggak menurutku. Pokoknya aku tetap mau mempelajarinya sampai aku jadi pro. Titik!" Ketus gadis itu. Didit hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian temannya itu. Mira sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Gadis itu langsung kembali ke posisi duduknya semula saat Bella semakin mendekati mejanya. Ia pura-pura membaca buku dengan serius.
"Hei," sapa Bella. Mira terlonjak, ia menatap Bella gugup sambil berusaha keras untuk tersenyum, "Hei...." Bella menatapnya dingin. Kalau saja tatapan gadis itu lemari es, pasti Mira langsung membeku di tempatnya. Gadis nyentrik itu mendekati Mira lalu mencondongkan badannya ke arah gadis itu. "Bukankah menguping sekaligus mengintip itu perbuatan yang buruk?" Bisik gadis itu. Tapi telinga Mira bisa menangkapnya dengan jelas. Gadis itu tertegun, matanya. Membelalak. Bella hanya melemparkan senyum sinisnya ke arah gadis berkacamata itu dan berlalu pergi.
Mira menarik lagi nafasnya yang sempat terhenti saking takutnya tadi. Ia membatin, "Bagaimana dia bisa tahu?"

***


Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan semua murid SMA itu langsung berhambur pulang, kecuali beberapa murid yang masih harus mengikuti kegiatan les. Suasana langit lagi-lagi mendung, menambah dingin hati Mira yang melenggok pulang ke luar pekarangan sekolah. Kepalanya tertunduk, menatap tanah yang menjadi pijakan sementara hidup di dunia. Helaan nafasnya terdengar beberapa kali.

"Hoi! Merengut aja, nanti cepat tua, lho!" Celetuk seseorang. Mira mendongak cepat, ia mengenali suara riang itu. Begitu matanya menatap sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya itu, senyumnya langsung merekah lebar.
"Karel!!" Pekiknya riang. Ia segera berhambur ke arah lelaki berkulit putih dengan taburan jerawat di wajahnya itu. Karel membalas senyuman Mira dan menyambutnya dengan tak kalah riang, "Nah, gini lha! Senyum. Gitu kan manis!" Godanya. Wajah Mira bersemu sambil cengar-cengir. Ia memukul pelan lengan lelaki itu.
"Kok gak pernah nelpon atau sms Mira lagi, sih? Mira kan khawatir! Mira kira Karel kenapa-napa di sana. Malah nomor Karel nggak aktif, lagi...," omel gadis itu sambil terus memukul-mukul lengan lelaki itu. Karel menghindar sambil mengadu kesakitan, "Pelan, Neng! Aku lagi bokek, nggak punya duit buat beli pulsa...," kilahnya.
"Alasan!!" Ucap Mira ngambek. Ia melipat tangan di depan dada. Karel kembali terkekeh melihat gadis itu membalik badan membelakanginya. "Iya, deh, iya. Maaf. Jangan ngambek lagi! Aku kan udah ngabulin permintaan Mira buat pulang ke Medan...," bujuknya sambil menarik lengan gadis itu menghadapnya. "Kalau Mira ngambek terus, aku balik ke Semarang," ancamnya.
Tak lama keduanya sudah kembali tertawa dan melenggang pulang bersama persis seperti dulu, saat mereka masih SMP. Namun ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik keduanya dari kejauhan. Keduanya mengerutkan kening, menatap heran dengan penuh tanda tanya. "Kau lihat?" Tanya salah seorangnya. Ia mengelus seekor kucing hitam yang ada dalam dekapannya. Yang ditanyai mengangguk, wajahnya tampak tak senang."Kita harus menghindarkan gadis itu dari orang tadi...," gumamnya. Yang mengelus kucing tadi berbalik, menatap tidak peduli, "Merepotkan. Kalau dia bisa melihatnya, berarti saatnya sudah dekat. Bantu saja dia untuk banyak-banyak berdoa...."

***


"Jauhi dia."

Mira mendongak dan memandang heran sekaligus kaget lelaki yang sudah berdiri di samping menjanya. Ia memandang wajah teduh lelaki itu dengan tidak mengerti, "Apa maksudnya, Dit?"
"Laki-laki berkulit putih itu, jauhi dia!" Ucap Didit lagi, masih tidak begitu jelas. Mira agak mengerti maksud pembicaraan teman sekelas yang biasanya hanya mengajarinya pelajaran yang tidak begitu dimengertinya itu. "Maksud Didit tuh Karel?" Tanyanya memastikan.
Didit tidak menyahut, hanya mengangguk pasti, matanya menegas. Mira menatapnya polos, "Kenapa?"Herannya. Didit mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Mira nggak akan bisa ngerti kalau aku bilang sekarang,"lirihnya. Mira mengernyitkan dahinya. "Pokoknya lakukan aja apa yang aku bilang," ucap Didit lagi sambil langsung melangkah pergi. Mira melongo bego memandangi kepergiannya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Aneh sekali, jarang Didit bicara dengan perempuan selain dalam pelajaran. Tapi Didit malah menyuruhnya melakukan hal yang aneh, setidaknya bagi gadis itu.
"Menjauhi Karel? Kenapa? Kok...?"

"Mir!"

Mira menoleh. Karel menjemputnya seperti yang ia janjikan kemarin sore. Lelaki itu melempar senyum lebar ke arahnya. Karel mengahampiri dirinya yang tengah duduk di depan bangunan sekolah, setengah berlari. Mira balas senyum, namun kali ini agak kaku.
"Udah lama nunggu?" Serbu Karel langsung. Mira menggeleng, "Nggak, kok. Baru lima menitan yang lalu..."
"Hoooh... Syukur kalau gitu... Ayo!"
Karel mengajak gadis itu beranjak dari tempatnya. Sebenarnya gadis berkacamata bingkai putih itu agak enggan, tapi kerinduannya pada Karel mengalahkan keengganannya. Fakta kalau mereka sudah tidak bertemu dua tahun belakangan ini membuatnya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama sahabatnya itu. Apapun yang dikatakan Didit nanti, itu urusan belakangan. Setidaknya Didit harus menjelaskan alasan melarangnya bertemu dengan Karel, kan?
"Kita mau ke mana hari ini?" Tanya Karel.
"Ke mana aja boleh. Mendingan kita makan dulu, deh. Mira lapar....," sahut gadis itu. Keduanya melangkah bersama ke salah satu warung makanan tongkrongan mereka dulu, menghabiskan waktu sambil berbagi cerita.
Tanpa disadari keduanya, seorang gadis tengah mengamati mereka. Lidah gadis itu mendecak pelan, "CK!! Gadis yang benar-benar merepotkan!" Keluhnya sambil berlalu pergi bersama hembusan angin.

***


Hari berganti malam. Mira kembali ke rumah dengan Karel yang mengantarkannya. Satu hari ini mereka hanya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah Mira sambil bercengkrama ria. Tak jarang keduanya tertawa bersama dan singgah di warung-warung makan sekitar hanya untuk sekedar membeli minuman dan cemilan.

"Kapan aku boleh singgah ke rumah nenekmu?" Tanya Mira sebelum keduanya berpisah. Karel menggaruk-garuk kepalanya, "Mending nggak usah dulu, deh. Nanti nenekku kira aku nggak mau balik ke Semarang gara-gara Mira....," tolaknya. Mira mengerutkan alis, "Memangnya kamu bolos?" Karel hanya tertawa cengengesan, membuat Mira geleng-geleng kepala. "Pantas kalo gitu. Ya udah, aku nggak mau ke rumah nenekmu. Nanti aku yang disalahin....," ujar Mira sambil tersenyum kecil.
"Sampai besok, ya!" Pamit Karel. Ia mulai melangkah menjauhi pekarangan rumah gadis itu. Mira melambaikan tangannya, "Jangan lupa jemput aku besok!" Pesannya. Karel membentuk sabit di bibirnya, namun matanya menyendu, "Ya, kalau kita bisa bertemu lagi besok....," bisiknya.

Karel melangkah semakin jauh, namun ada dua orang yang menghalangi langkahnya. Karel mendongak, menatap wajah sepasang lelaki dan perempuan yang sudah ada di depannya. Salah satunya menggendong seekor kucing hitam di tangan kanannya, mengelusnya perlahan.

"Kalian...," heran Karel, bukan karena kedua orang itu menghadangnya, tapi karena satu hal lagi.
Si gadis mengehela nafas panjang sambil menatap dingin, "Kalau Didit nggak bersikeras minta tolong ke aku, aku nggak akan mau terlibat dalam hal ini....," ujarnya malas.
Angin dingin malam berhembus kencang, menerpa wajah dan diri ketiga orang yang saling berhadapan itu. Belum ada satu kata pun yang meluncur dari lidah mereka. Mereka hanya saling lempar tatapan dingin yang membuat suasana semakin mencekam dan sunyi. "Kenapa kau masih mendekati Mira?" Tanya Didit tanpa basa-basi, memecah keheningan yang sempat tercipta. Karel tersenyum sinis lalu mengangkat bahu, "Memangnya salah kalau aku menemui sahabatku sendiri? Itu wajar kan?"
"Jangan pura-pura nggak tahu!" Ketus Bella. Ia menurunkan kucingnya dengan kesal, "Kau membahayakan nyawa gadis itu!!" Tekannya. Jari telunjukanya mengarah ke Karel. Yang disembur hanya menatap datar, "Kalaupun kami bisa bertemu, itu bukan salahku kan? Waktunya memang sudah dekat,"kilahnya, "Lagi pula, kalian tidak merasa segan berbicara dengan orang yang baru kalian kenal? Nama aja belum tahu....," ucapnya acuh tak acuh.
Bella mendekat, kucingnya mengikut di kakinya, "Kau Karel Kagan, lahir di Medan 17 tahun yang lalu dan pindah ke Yogya lima tahun lalu. Cukup? Kami mengenalmu," ujarnya dingin. Karel menaikkan alisnya, "Bagaimana kalian bisa tahu? Kalian paranormal?" Tanyanya membelalak dengan nada canda. Bella hanya mendengus kesal, "Itu tertulis jelas di wajahmu!" Ketusnya.
Tangan Bella mendorong Karel ke belakang sampai lelaki itu hampir jatuh terjerembab. Sayangnya kaki Karel malah menginjak ekor kucing gadis serba hitam itu, membuat kucing tersebut mengeyong keras lalu berlari kencang ke arah jalan. Sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah makhluk kecil bertaring itu, sementara si kucing tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. "TTIIIIINNN!!!" Suara klakson motor itu terdengar nyaring.
"Noir!!" Bella meneriakkan nama kucingnya. Ia terlalu jauh untuk menyelamatkan kucingnya. "Mati aku!" Pikirnya panik.
Hanya dalam beberapa detik, Mira datang dan menyelamatkan makhluk kecil itu. Sepertinya ia memang sedang berada tak jauh dari sana. Bella terpatung di tempatnya, menatap tak percaya ke arah Mira dan kucingnya yang masih selamat di gendongan gadis berkacamata itu. Setelah sadar dari ketidakpercayaannya, Bella langsung berlari kencang menuju keduanya. Larinya panik dan penuh dengan tatapan berterima kasih. Karel dan Didit ia tinggalkan begitu saja.
"Makasih! Makasih banyak!" Ucap Bella berkali-kali. Ia mengambil alih kucingnya dari dekapan Mira lalu mengelus dan memeluknya penuh rasa sayang. Mira hanya bisa tersenyum kaku di tempatnya, masih canggung untuk berbicara dengan gadis itu. "Kebetulan tadi Mira dengar ribut-ribut dari luar, makanya Mira ke luar. Mira kira ada yang lagi bertengkar. Waktu mau mendekati kalian, kucingnya mau ketabrak motor dan..."
"Aku udah tahu. Makasih banyak," potong Bella, menghentikan semua penjelasan panjang Mira. Bella menatap Mira dan kucingnya bergantian lalu menghela nafas panjang. "Aku berhutang budi padamu. Kau bisa mengajukan satu permintaan padaku, apa saja sebagai balasan jasamu...," ucapnya lagi. Mira memandangnya bingung, "Permintaan?"
"Ya, tapi aku tidak bisa mengabulkan satu hal, menghidupkan orang mati...."

***



Mira memutar semua kejadian akhir-akhir ini di dalam pikirannya. Ia berpangku tangan, mencoba mengingat semuanya. Ada beberapa hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Pertama, kepulangan Karel yang tiba-tiba. Kedua, sikap Didit dan Bella yang tiba-tiba bicara padanya dan tampak benar-benar anti sama Karel. Ketiga, permintaan yang ditawarkan Bella sebagai balas budi karena aksi penyelamatannya. Ya, semuanya terasa ganjil, tidak normal. Pasti ada kenyataan yang tersembunyi di balik semua ini. Ia menghembuskan nafas kuat-kuat, terlalu lelah dengan semua pemikirannya.

"Kenapa, Mir? Sakit?" Tanya Karel yang tengah berjalan di sampingnya. Mira menoleh lalu menggeleng pelan seraya tersenyum, "Nggak, kok. Nggak apa-apa, cuma agak capek aja..." Jawabnya. Karel tampak khawatir, "Mendingan Mira banyak-banyak istirahat aja. Takutnya Mira kenapa-napa...," cerocosnya. Keduanya memang sedang berjalan kaki menuju sekolah Mira. Satu hal lagi yang Mira sadari, keduanya tidak pernah naik transportasi karena Karel selalu memintanya untuk jalan kaki. Karel juga mengantar jemputnya selama ia berada di Medan, dan selalu jalan kaki. Aneh. Setahu Mira, rumah nenek Karel cukup jauh dari rumahnya.
Ada perasaan aneh yang menerpa hati gadis itu. Entah kenapa ia ingin menghindari Karel untuk sementara waktu, setidaknya untuk menata pikirannya agar dapat mencerna apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini. "Karel...," panggilnya. Karel menoleh, "ng?"
"Nanti nggak usah jemput Mira dulu. Hari ini ada les di sekolah...," bohongnya, "Kita ketemu di tempat biasa aja, ya?"
Karel mengingat tempat yang dimaksud Mira. Sebuah gedung tua yang jarang didatangi orang. Di samping bangunan itu terdapat banyak besi-besi tua penuh karat. Sebenarnya tempat itu cukup bahaya untuk didatangi, tapi itulah tempat penuh kenangan bagi keduanya. Lelaki itu menganggguk, "Ya udah, nanti aku tunggu di sana."
Keduanya sampai di depan sekolah Mira dan berpisah di sana. Mira memandang punggung Karel yang mulai menjauh. Insting kewanitaannya berkata kalau dia harus menghindari Karel untuk saat ini dan seterusnya...
***

Gundah. Itu yang terus dirasakan Mira seharian ini. Gerimis yang semakin deras membasahi dirinya tak lagi ia pikirkan. Ia hanya ragu untuk menemui Karel. Perasaannya tak enak, dia yakin akan hal itu. Seakan ada dorongan untuk pulang begitu saja tanpa menemui sahabatnya itu. Tapi janji adalah janji dan dia tidak suka ingkar janji. Mau tak mau kakinya terus melangkah menuju bangunan tua itu.

"Mira!"
Gadis itu menoleh. Ibu penjaga warung tempat ia makan bersama Karel dua hari lalu menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh. Mira memandangnya heran. Sudah lama ia kenal ibu itu dan baru kali ini ia melihatnya seheboh itu. "Ada apa, Bu?"
"Waktu terakhir kau makan di sini, kau tampak aneh kali!" Cerocos ibu itu langsung. Mira mengerutkan alisnya, "Aneh gimana? Orang Mira biasa aja, kok!"
"Kau bicara sendiri, tertawa sendiri... Kau buat pelanggan Ibu pada lari semua, mereka kira kau gila," Ibu itu menghentikan ucapannya, tubuhnya agak bergidik menjauhi Mira, "...kau belum gila kan?" Tanyanya takut-takut.
Mira tertawa canggung, "Ibu bercanda kan? Waktu itu Mira datang sama teman Mira, kok! Ibu juga udah kenal dia. Si Karel lho, Bu!" Ucapnya tak percaya. Kali ini Ibu itu mengerutkan keningnya, semakin menambah banyak jumlah kerutan di wajah letihnya, "Ibu lihat sendiri kalau kau datang sendirian, terus ngomong-ngmomong sendiri, ketawa sendiri persis orang gila!!"
"Tapi..."
"Pokoknya jangan datang ke warung Ibu lagi kalau kau masih gila! Nanti pelanggan Ibu pada lari gara-gara tingkahmu!" Tandas Ibu itu mengakhiri pembicaraan. Dengan langkah takut-takut si Ibu menjauhi Mira yang masih terbengong bingung. Bertambah lagi hal aneh yang terjadi padanya.
"Aku yakin barengan sama Karel waktu itu... Kok..?" Mira semakin gundah. Kepalanya semakin sakit memikirkan semuanya. Langkahnya melambat, dirinya sudah semakin dekat dengan gedung tua tujuannya. Tapi hatinya semakin ragu untuk datang ke sana.
"Haruskah aku datang ke sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah aku sampai di sana? Bagaimana kalau ternyata Karel sudah berubah menjadi orang jahat? Bagaimana kalau...," semua pikiran negatif berseliweran di kepalanya. Semakin ia melangkah, semakin berat hati dan pikirannya. Tanpa ia sadari ia sudah sampai di tempat itu.
Mira menghela nafas panjang, menghimpun kembali semua keinginannya untuk bertemu Karel. "Setidaknya aku ingin menemuinya untuk terakhir kali sampai hatiku leluasa menemuinya...," lirihnya dalam hati.

Mira melangkah ke dalam pekarangan tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat, tapi ia sama sekali tak menemui sosok Karel. Yang ditangkap matanya malah betapa seramnya keadaan tempat yang ia datangi itu sekarang. Hari sudah beranjak sore dan langit mulai gelap. Suara kendaraan terdengar sepi berlalu lalang. Mira menelan ludahnya. Takut semakin memeluk dirinya.

"Sudah kubilang, jauhi dia."
Mira menoleh ke balik dinding kusam yang tak jauh darinya. Ia mengenal suara itu, suara Didit. Gadis itu melangkah mendekati tempat itu.
"Aku nggak mau," kali ini suara Karel yang kedengaran. Entah kenapa Mira merasa lega, setidaknya ia tidak sendirian menghadapi lelaki kaku itu. Ia hendak mendekati orang-orang itu.
"Kau hantu, kau tahu?! Kau seharusnya nggak ada di sini!! Jangan ganggu dia!!" Kali ini pekikan Bella berhasil membuat langkah Mira terhenti. Tubuhnya menegang kaku dan suhu tubuhnya mendingin. Perlahan bulu kuduknya berdiri. Matanya terbelalak lebar dengan mulut yang meenganga tanpa sadar. 'Hantu'? Itu bohong kan?
"Iya! Kalau aku hantu, memangnya kenapa?! Toh aku nggak ngeganggu kalian. Kalian juga bukan manusia biasa kan? Jangan sok sementang kalian masih hidup!!" Kali ini Karel yang menyemburkan semua kekesalannya. Dan saat semua kalimat Karel selesai, tubuh Mira benar-benar lemas. Kakinya tak mampu menopang berat badannya lagi.
"Kami hanya ingin menyadarkanmu," terdengar suara tenang Didit, "Alammu bukan di sini lagi. Kau bisa mengacaukan hidupnya kalau kau terus muncul di depannya..." Tak ada sahutan balik dari Karel, yang terdengar malah suara kerasa decakan Bella, "Kami memang bukan manusia biasa. Aku penyihir sementara Didit memang bisa ngelihat hantu sejak masih kecil. Kami cuma mau menghindarkan hal-hal yang nggak diinginkan aja!!" Ketusnya, menambah lemas Mira yang mendengarkan semua pembicaraan mengejutkan tersebut.
"Aku... aku cuma mau ketemu Mira untuk yang terakhir kalinya... Aku cuma mau ngelihat senyumnya lagi setelah bertahun-tahun ini nggak menemuinya..... Aku...aku...," resah Karel.
"Kau menghancurkannya perlahan. Kau membuatnya tampak gila di mata orang normal," tandas Didit tajam.
"Kalau hanya untuk yang terakhir kalinya, kau takkan pura-pura hidup di matanya sampai sekarang!" Tambah Bella lagi, "Kecelakaan di Gunung Merapi itu memang bukan keinginanmu kan? Itu garisan takdir." Karel diam di tempatnya, tak tahu harus berkata apa. Bella mendekatinya, mendengus penuh tekanan, "Kebohonganmu jauh lebih menyakitinya dari pada saat kau tak bisa mengucapkan salam terakhirmu padanya. Kebohonganmu." Ia semakin mendekati Karel yang terus menundukkan kepalanya, meenatap tanah yang selama ini pura-pura dicercah kakinya. Bella mulai berbisik di telinganya, "Tak ada yang tahu apa yang kan terjadi di setiap detik lanjut selama berada di dunia ini. Sama seperti kau yang tak tahu kalau gadis itu sudah menguping pembicaraan kita sejak tadi...," ucapnya setengah berbisik.
Karel langsung mendongak. Matanya menangkap sosok Mira yang tampak menahan tangis di dekat sebongkah tembok yang mengusam. Bella menjauhkan dirinya sambil tersenyum penuh arti melihat Karel yang langsung mengejar gadis berkacamata itu.
"Kau tahu kalau dia sudah ada di sana sejak tadi, kan?" Ujar Didit. Ia melipat tangan di depan dada. Bella semakin mengembangkan senyumnya, "Yap. Ada gunanya juga mempelajari sihir walau kau melarangku setengah mati kan? Seseorang harus mengungkapkan kebenaran sebelum dia dianggap gila oleh semua penduduk dunia," sahut gadis itu santai. Namun ekspresinya berubah perlahan, "Tapi waktu kematiannya semakin dekat sampai dia bisa melihat Karel sejelas itu. Sudah saatnya bagiku mengabulkan satu permintaannya...."
Gadis itu menghilang dalam sekejap. Didit menoleh ke arah Noir, kucing hitam yang ditinggalkan Bella di samping lelaki berkulit gelap itu. Selama ini Bella begitu protektif terhadap kucingnya karena binatang peliharaan sudah seperti nyawa kedua bagi penyihir. Didit menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa, "Kapan gadis itu akan berubah?" Keluhnya.

"Mira, dengar aku dulu!" Karel meraih tangan Mira dengan susah payah, memaksa gadis itu menghadapnya. Karel bisa melihat wajah gadis itu sudah basah penuh linangan air mata. Mira menatapnya sebal, namun ada rasa takut yang tersirat dari matanya. "Karel bohong sama Mira. Nggak suka, Mira nggak suka!!" Pekik gadis itu serak. Air matanya semakin deras, "Pembohooong!!!"

"Mira!"
Pekikan Karel terlambat. Begitu Mira berhasil melepaskan diri dari pegangan Karel, tubuhnya langsung menabrak tumpukan besi tua yang tadinya tegak bersandar pada pagar beton tempat itu. Besi-besi itu langsung berjatuhan menimpa tubuh Mira yang juga terjatuh di atas sebuah pancang besi pendek yang berdiri tegak di depannya. "Kkhh!!" Hanya itu suara yang mampu keluar dari bibir Mira. Darah bermuncratan dari mulut dan sekujur tubuhnya, terutama dari dadanya di mana paru-paru kanannya sudah tertancap besi pendek itu.
"Mir...," Karel mendekati gadis itu. Mata mira menangkap samar kaki Karel yang melayang, tak lagi cercah ke tanah. Karel melihat kondisi Mira yang menyedihkan, mendengar nafasnya yang sudah tinggal satu-satu, menyentuh kulitnya yang dipenuhi genangan darah merah pekat.
"Maaf...," bisik lelaki itu pelan, "Kalau saja aku nggak mau menampakkan diriku di hadapanmu, ini nggak akan terjadi..."
"UHUK UHUK UHUK!! Hh..hh..hh..," Mira terbatuk beberapa kali yang berebut keluar bersama nafasnya. Karel semakin cemas. Ia mulai merasa Mira semakin serupa dengannya, setidaknya itu yang tampak di matanya sekarang, saat tubuh asli Mira mulai berpisah dengan ruhnya.
Mira sendiri dalam keadaan setengah sadar. Paru-parunya semakin sulit diajak kerja sama mengambil nafas. Sekarang hatinya mencekam. Akankah dia mati sekarang? Apa semua masalah dengan Karel, Bella, dan Didit akan berakhir begitu saja dengan kematiannya? Apa semua cita-cita tentang masa depannya akan lenyap begitu saja? Bagaimana nasibnya saat menghadap Tuhan nanti? Sekarang dia benar-benar takut.
"Takut?" Kali ini telinga Mira menangkap samar suara dingin Bella. Benar saja, gadis nyentrik itu tengah membungkukkan badan dengan wajah menghadapnya. Ia tersenyum tipis, "Cukup menyedihkan untuk kematian seorang gadis baik-baik...," gumamnya, "Lalu, apa permintaanmu? Aku tidak suka berhutang, terutama pada orang yang sudah mau mati."
Mira berusaha keras menarik nafas-nafas panjang, setidaknya agar dia bisa melanjutkan hidupnya sedikit lebih lama. "Ba..gai..mana.. kau.. bisa me..ngabulkan.. permintaanku...?" Sahutnya patah-patah. Baru kali ini ia merasa betapa sulitnya bicara sambil mengumpulkan nafas.
"Aku penyihir, kau tahu?" Sahut Bella santai. "Cepatlah sebelum malaikat maut benar-benar membawa jiwamu pergi."
Mira memejamkan matanya. Nafasnya hanya tinggal satu-satu. Semua bayangan orang-orang yang berharga baginya terus melintas dan membayangi pikirannya. Ibunya, ayahnya, abang-abangnya, adiknya, teman-temannya, sahabat baiknya, dan satu orang yang terus memenuhi otaknya akhir-akhir ini, Karel. Senyum Karel terlintas di otaknya, menghidupkan arus ide di kepalanya. Akhirnya ia menemukan satu permintaan yang tepat untuk diajukan, permintaan yang mewakili seluruh jiwanya untuk saat ini.
"Jadi, apa permintaanmu?" "...Putar...kem..bali ...waktu...sam..pai sa..at di ma..na.. Karel..belum..mati... Hh..hh..hh.. Agar...aku..bi..sa..menghindar...kannya...dari takdir ini...," ujar Mira dengan segenap tenaganya yang tersisa. Bella melempar pandangannya pada Karel yang tertegun dengan isi permintaan Mira. Bella tersenyum, kali ini melembut, "Permintaan yang baik dari gadis baik. Sebenarnya merepotkan kembali mengulang lagi semua hal yang sudah kulakukan, tapi baiklah."
Telinga Mira mendengar samar suara Bella yang mengucapkan mantra-mantra asing. Hanya beberapa saat dan kemudian gadis itu benar-benar tak lagi sadarkan diri. "Aku hanya ingin menghindari takdir ini... Itu saja...," lirihnya dalam hati. Dan hening pun menghampirinya.
***

"Mira, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, ponselmu berisik kali dari tadi!!"

Suara itu suara yang amat dikenali Mira, suara judes abangnya yang kedengarannya sekarang sudah berdiri di sampingnya. Mira mengerjapkan matanya, menatap samar sosok abangnya yang masih belum begitu tampak jelas.
"Apa, bang? Siapa yang nelpon?" Mira bangkit dari tidurnya lalu duduk sambil mengucek matanya.
"Mana Abang tahu! Lihat aja sendiri, noh!"
Mira mengangkat alis, "Aneh, rasanya seperti deja vu...," batin gadis itu dalam hati. Ia mengangkat telponnya sambil menguap lebar, "Halo?"
Seperti yang Mira duga, itu Karel. Sahabatnya itu kembali menelpon setelah sekian lama tidak menghubungnya.
"Apa kabar? Udah lama Karel nggak nelpon Mira..."
"Baik-baik aja. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Gunung Merapi di Yogya. Mau aku kirimin oleh-olehnya nanti?"
Tidak, Mira merasa ini tidak benar. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia harus melarang Karel pergi ke tempat itu. Harus. Kepanikan muncul di hati Mira. Ada yang harus dihindarinya. Ya, dia harus menghindari nasib buruk yang bisa terjadi nanti. Nasib buruk yang rasanya benar-benar nyata bahkan sebalum ia mengalaminya. Jantung Mira berdebar keras, nafasnya semakin cepat. Ia harus menghentikan rencana sahabatnya itu.
"Jangan!! Jangan pergi, Rel!!"


---THE END---

1 komentar:

Kazufah mengatakan...

Like this. .^^ Emang kalau karya bela, TOP hihi:D

Posting Komentar

Tolong berikan tanggapan Anda!

HINDAR Karya Bella Jo, written by @ikiiey

| |

Langit malam semakin gelap. Waktu beranjak cepat, berpindah dan berganti tanpa bosan-bosannya. Semilir angin yang menabrak dedaunan memberi peringatan pada setiap orang yang bernaung di bawah langit saat itu, hujan akan turun malam ini. Namun angin tak bisa menembus tebalnya tembok satu rumah, di mana seorang gadis sedang terlelap di salah satu kamarnya.
Lihat selengkapnya >>
RING DING DONG RING DING DONG

Diggi ding diggi ding ding ding...

Bunyi itu terdengar samar di telinga si gadis yang masih memejamkan mata. Namun dering itu terdengar semakin keras. Perlahan ia membuka matanya, pandangannya masih kabur. Ia mendapati sosok yang ia kenali sudah berdiri sambil berkacak pinggang di samping tempat tidurnya. Lelaki itu menyodorkan ponsel berwarna merah ke arahnya.

"Mira, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, ponselmu berisik kali dari tadi!!" Ucap lelaki itu judes. Mira mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti, "Apa, bang? Siapa yang nelpon?"
"Mana Abang tahu! Lihat aja sendiri, noh!" Ucap lelaki itu sambil meletakkan benda tipis di tangannya ke samping gadis yang rambutnya masih acak-acakan itu. Mira menguap lebar lalu menekan tombol hijau ponselnya, "Halo?" Sapanya dengan nada ngawur, mulutnya masih terbuka lebar.
"Halo, Mir!"
Mira tertegun di tempatnya. Ia mengenali suara riang ini, suara lelaki yang kadang-kadang saja bisa ia dengarkan keceriaannya. "Karel?!" Pekiknya kaget. Yang disebut hanya tertawa renyah, "Pasti baru bangun tidur, ya? Nampak kali baru loading...," goda lelaki itu. Mira tersenyum.
"Apa kabar? Udah lama Karel nggak nelpon Mira..."
"Baik-baik aja. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Gunung Merapi di Yogya. Mau aku kirimin oleh-olehnya nanti?" Tawarnya langsung. Mira berpikir sejenak lalu menjawab, "Nggak. Dari pada Karel kirimin oleh-oleh, mending Karel aja yang pulang ke Medan!" Ucapnya. Karel terkekeh di seberang sana, " Nanti aku pulang kalau ada waktu libur lainnya. Ya udah, deh. Aku cuma mau ngasih tau itu aja."
"Hati-hati, ya, Rel!"
"Iya. Malam!"
"Malam..."
Mira menjauhkan ponselnya dari telinga. Senyumannya mengembang lebar. Namun perlahan senyuman itu pudar, hatinya menangkap satu firasat untuk menghindari sesuatu.

***


Hari berganti dengan cepat. Sudah dua minggu berlalu dan Mira tidak pernah mendapat telpon dari Karel lagi sejak saat itu. Ia sudah mencoba menelpon sahabatnya sejak kecil yang pindah ke Semarang lima tahun lalu itu, namun nomornya sudah tidak aktif lagi. Mungkin saja Karel menukar nomor ponselnya dengan nomor baru dan akan menelpon Mira nanti.

Gadis berkerudung itu terduduk lesu sambil menatap layar ponselnya. Ia mengharapkan pesan dari Karel, hanya untuk sekedar tahu kalau sahabat baiknya itu sehat-sehat saja. Dan kalau berkenan, mungkin mau berbagi cerita tentang liburannya ke Yogya waktu itu. Gadis itu menghela nafas panjang. Akhirnya ia memilih untuk membalik-balik halaman buku Biologinya, membaca untuk menghabiskan waktu. Maklum saja, ia sudah jadi siswi kelas 3 SMA.
Tiba-tiba seseorang menyenggol mejanya. Mira mendongakkan kepalanya spontan. Ia terpatung begitu melihat wajah orang yang sempat membuyarkan konsentrasinya itu. "Maaf," ucap orang itu singkat lalu langsung kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Nggak apa-apa...," bisik Mira takut-takut. Matanya mengikuti ke mana orang itu pergi. Mira menelan ludah gugup. Ada helaan nafas lega yang ia hembuskan, bersyukur karena tidak perlu berurusan lama dengan orang tadi.
Orang tadi adalah Bella, teman sekelas Mira yang aneh dan agak nyentrik. Entah apa yang membuatnya selalu bertingkah aneh dan tertutup. Bahkan gadis yang seumuran dengannya itu tidak begitu suka bersosialisasi dengan warga kelas lain dan memilih untuk duduk sendiri di sudut belakang kelas dari pada mengobrol atau tertawa bersama. Anehnya lagi, Bella selalu membawa kucing bersamanya dan sering memakai benda-benda serba hitam. Sudah banyak guru yang menegurnya, tapi semua teguran itu ia patahkan dengan alasan tidak ada peraturran sekolah yang dilanggarnya lewat kelakuannya itu.
Hanya satu orang yang dekat dengan Bella, itupun karena keduanya sudah berteman sejak mereka masih kecil. Orang itu adalah orang yang sedang bicara dengan Bella sekarang, Didit. Dia lelaki berkulit gelap, berambut cepak, dan terkenal dengan ekskul rohis dan paskibranya. Tak ada yang mengerti kenapa kedua orang yang saling bertolak belakang itu bisa bersahabat sampai sekarang. Mungkin itu memang sudah takdir yang tak terhindarkan.
Didit sendiri orang yang cukup pendiam. Hanya segelintir orang yang bisa ngobrol santai dengannya, namun tak satupun wanita selain Bella. Dibanding dengan gadis nyentrik itu,
Didit jauh lebih bersahabat dengan orang lain, bahkan sangat aktif di kelas.

Mira terus menatap keduanya tanpa bisa mengalihkan pandangan, entah kenapa ia begitu penasaran dengan percakapan keduanya.

"Aku nggak mau," ucap Bella tegas, dengan nada cueknya yang biasa. Mira menguping pembicaraan mereka. Didit tampak kesal dan tidak terima, namun masih tetap berusaha tenang, "Kenapa? Aku kan cuma menyarankan hal yang baik kepadamu...," kilahnya. Bella mendengus, kedengarannya mengejek, "Mungkin itu hal baik menurutmu, tapi nggak menurutku. Pokoknya aku tetap mau mempelajarinya sampai aku jadi pro. Titik!" Ketus gadis itu. Didit hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menatap kepergian temannya itu. Mira sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Gadis itu langsung kembali ke posisi duduknya semula saat Bella semakin mendekati mejanya. Ia pura-pura membaca buku dengan serius.
"Hei," sapa Bella. Mira terlonjak, ia menatap Bella gugup sambil berusaha keras untuk tersenyum, "Hei...." Bella menatapnya dingin. Kalau saja tatapan gadis itu lemari es, pasti Mira langsung membeku di tempatnya. Gadis nyentrik itu mendekati Mira lalu mencondongkan badannya ke arah gadis itu. "Bukankah menguping sekaligus mengintip itu perbuatan yang buruk?" Bisik gadis itu. Tapi telinga Mira bisa menangkapnya dengan jelas. Gadis itu tertegun, matanya. Membelalak. Bella hanya melemparkan senyum sinisnya ke arah gadis berkacamata itu dan berlalu pergi.
Mira menarik lagi nafasnya yang sempat terhenti saking takutnya tadi. Ia membatin, "Bagaimana dia bisa tahu?"

***


Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan semua murid SMA itu langsung berhambur pulang, kecuali beberapa murid yang masih harus mengikuti kegiatan les. Suasana langit lagi-lagi mendung, menambah dingin hati Mira yang melenggok pulang ke luar pekarangan sekolah. Kepalanya tertunduk, menatap tanah yang menjadi pijakan sementara hidup di dunia. Helaan nafasnya terdengar beberapa kali.

"Hoi! Merengut aja, nanti cepat tua, lho!" Celetuk seseorang. Mira mendongak cepat, ia mengenali suara riang itu. Begitu matanya menatap sosok yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya itu, senyumnya langsung merekah lebar.
"Karel!!" Pekiknya riang. Ia segera berhambur ke arah lelaki berkulit putih dengan taburan jerawat di wajahnya itu. Karel membalas senyuman Mira dan menyambutnya dengan tak kalah riang, "Nah, gini lha! Senyum. Gitu kan manis!" Godanya. Wajah Mira bersemu sambil cengar-cengir. Ia memukul pelan lengan lelaki itu.
"Kok gak pernah nelpon atau sms Mira lagi, sih? Mira kan khawatir! Mira kira Karel kenapa-napa di sana. Malah nomor Karel nggak aktif, lagi...," omel gadis itu sambil terus memukul-mukul lengan lelaki itu. Karel menghindar sambil mengadu kesakitan, "Pelan, Neng! Aku lagi bokek, nggak punya duit buat beli pulsa...," kilahnya.
"Alasan!!" Ucap Mira ngambek. Ia melipat tangan di depan dada. Karel kembali terkekeh melihat gadis itu membalik badan membelakanginya. "Iya, deh, iya. Maaf. Jangan ngambek lagi! Aku kan udah ngabulin permintaan Mira buat pulang ke Medan...," bujuknya sambil menarik lengan gadis itu menghadapnya. "Kalau Mira ngambek terus, aku balik ke Semarang," ancamnya.
Tak lama keduanya sudah kembali tertawa dan melenggang pulang bersama persis seperti dulu, saat mereka masih SMP. Namun ada dua pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik keduanya dari kejauhan. Keduanya mengerutkan kening, menatap heran dengan penuh tanda tanya. "Kau lihat?" Tanya salah seorangnya. Ia mengelus seekor kucing hitam yang ada dalam dekapannya. Yang ditanyai mengangguk, wajahnya tampak tak senang."Kita harus menghindarkan gadis itu dari orang tadi...," gumamnya. Yang mengelus kucing tadi berbalik, menatap tidak peduli, "Merepotkan. Kalau dia bisa melihatnya, berarti saatnya sudah dekat. Bantu saja dia untuk banyak-banyak berdoa...."

***


"Jauhi dia."

Mira mendongak dan memandang heran sekaligus kaget lelaki yang sudah berdiri di samping menjanya. Ia memandang wajah teduh lelaki itu dengan tidak mengerti, "Apa maksudnya, Dit?"
"Laki-laki berkulit putih itu, jauhi dia!" Ucap Didit lagi, masih tidak begitu jelas. Mira agak mengerti maksud pembicaraan teman sekelas yang biasanya hanya mengajarinya pelajaran yang tidak begitu dimengertinya itu. "Maksud Didit tuh Karel?" Tanyanya memastikan.
Didit tidak menyahut, hanya mengangguk pasti, matanya menegas. Mira menatapnya polos, "Kenapa?"Herannya. Didit mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Mira nggak akan bisa ngerti kalau aku bilang sekarang,"lirihnya. Mira mengernyitkan dahinya. "Pokoknya lakukan aja apa yang aku bilang," ucap Didit lagi sambil langsung melangkah pergi. Mira melongo bego memandangi kepergiannya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Aneh sekali, jarang Didit bicara dengan perempuan selain dalam pelajaran. Tapi Didit malah menyuruhnya melakukan hal yang aneh, setidaknya bagi gadis itu.
"Menjauhi Karel? Kenapa? Kok...?"

"Mir!"

Mira menoleh. Karel menjemputnya seperti yang ia janjikan kemarin sore. Lelaki itu melempar senyum lebar ke arahnya. Karel mengahampiri dirinya yang tengah duduk di depan bangunan sekolah, setengah berlari. Mira balas senyum, namun kali ini agak kaku.
"Udah lama nunggu?" Serbu Karel langsung. Mira menggeleng, "Nggak, kok. Baru lima menitan yang lalu..."
"Hoooh... Syukur kalau gitu... Ayo!"
Karel mengajak gadis itu beranjak dari tempatnya. Sebenarnya gadis berkacamata bingkai putih itu agak enggan, tapi kerinduannya pada Karel mengalahkan keengganannya. Fakta kalau mereka sudah tidak bertemu dua tahun belakangan ini membuatnya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama sahabatnya itu. Apapun yang dikatakan Didit nanti, itu urusan belakangan. Setidaknya Didit harus menjelaskan alasan melarangnya bertemu dengan Karel, kan?
"Kita mau ke mana hari ini?" Tanya Karel.
"Ke mana aja boleh. Mendingan kita makan dulu, deh. Mira lapar....," sahut gadis itu. Keduanya melangkah bersama ke salah satu warung makanan tongkrongan mereka dulu, menghabiskan waktu sambil berbagi cerita.
Tanpa disadari keduanya, seorang gadis tengah mengamati mereka. Lidah gadis itu mendecak pelan, "CK!! Gadis yang benar-benar merepotkan!" Keluhnya sambil berlalu pergi bersama hembusan angin.

***


Hari berganti malam. Mira kembali ke rumah dengan Karel yang mengantarkannya. Satu hari ini mereka hanya berjalan kaki menyusuri jalanan menuju rumah Mira sambil bercengkrama ria. Tak jarang keduanya tertawa bersama dan singgah di warung-warung makan sekitar hanya untuk sekedar membeli minuman dan cemilan.

"Kapan aku boleh singgah ke rumah nenekmu?" Tanya Mira sebelum keduanya berpisah. Karel menggaruk-garuk kepalanya, "Mending nggak usah dulu, deh. Nanti nenekku kira aku nggak mau balik ke Semarang gara-gara Mira....," tolaknya. Mira mengerutkan alis, "Memangnya kamu bolos?" Karel hanya tertawa cengengesan, membuat Mira geleng-geleng kepala. "Pantas kalo gitu. Ya udah, aku nggak mau ke rumah nenekmu. Nanti aku yang disalahin....," ujar Mira sambil tersenyum kecil.
"Sampai besok, ya!" Pamit Karel. Ia mulai melangkah menjauhi pekarangan rumah gadis itu. Mira melambaikan tangannya, "Jangan lupa jemput aku besok!" Pesannya. Karel membentuk sabit di bibirnya, namun matanya menyendu, "Ya, kalau kita bisa bertemu lagi besok....," bisiknya.

Karel melangkah semakin jauh, namun ada dua orang yang menghalangi langkahnya. Karel mendongak, menatap wajah sepasang lelaki dan perempuan yang sudah ada di depannya. Salah satunya menggendong seekor kucing hitam di tangan kanannya, mengelusnya perlahan.

"Kalian...," heran Karel, bukan karena kedua orang itu menghadangnya, tapi karena satu hal lagi.
Si gadis mengehela nafas panjang sambil menatap dingin, "Kalau Didit nggak bersikeras minta tolong ke aku, aku nggak akan mau terlibat dalam hal ini....," ujarnya malas.
Angin dingin malam berhembus kencang, menerpa wajah dan diri ketiga orang yang saling berhadapan itu. Belum ada satu kata pun yang meluncur dari lidah mereka. Mereka hanya saling lempar tatapan dingin yang membuat suasana semakin mencekam dan sunyi. "Kenapa kau masih mendekati Mira?" Tanya Didit tanpa basa-basi, memecah keheningan yang sempat tercipta. Karel tersenyum sinis lalu mengangkat bahu, "Memangnya salah kalau aku menemui sahabatku sendiri? Itu wajar kan?"
"Jangan pura-pura nggak tahu!" Ketus Bella. Ia menurunkan kucingnya dengan kesal, "Kau membahayakan nyawa gadis itu!!" Tekannya. Jari telunjukanya mengarah ke Karel. Yang disembur hanya menatap datar, "Kalaupun kami bisa bertemu, itu bukan salahku kan? Waktunya memang sudah dekat,"kilahnya, "Lagi pula, kalian tidak merasa segan berbicara dengan orang yang baru kalian kenal? Nama aja belum tahu....," ucapnya acuh tak acuh.
Bella mendekat, kucingnya mengikut di kakinya, "Kau Karel Kagan, lahir di Medan 17 tahun yang lalu dan pindah ke Yogya lima tahun lalu. Cukup? Kami mengenalmu," ujarnya dingin. Karel menaikkan alisnya, "Bagaimana kalian bisa tahu? Kalian paranormal?" Tanyanya membelalak dengan nada canda. Bella hanya mendengus kesal, "Itu tertulis jelas di wajahmu!" Ketusnya.
Tangan Bella mendorong Karel ke belakang sampai lelaki itu hampir jatuh terjerembab. Sayangnya kaki Karel malah menginjak ekor kucing gadis serba hitam itu, membuat kucing tersebut mengeyong keras lalu berlari kencang ke arah jalan. Sebuah sepeda motor melaju kencang ke arah makhluk kecil bertaring itu, sementara si kucing tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. "TTIIIIINNN!!!" Suara klakson motor itu terdengar nyaring.
"Noir!!" Bella meneriakkan nama kucingnya. Ia terlalu jauh untuk menyelamatkan kucingnya. "Mati aku!" Pikirnya panik.
Hanya dalam beberapa detik, Mira datang dan menyelamatkan makhluk kecil itu. Sepertinya ia memang sedang berada tak jauh dari sana. Bella terpatung di tempatnya, menatap tak percaya ke arah Mira dan kucingnya yang masih selamat di gendongan gadis berkacamata itu. Setelah sadar dari ketidakpercayaannya, Bella langsung berlari kencang menuju keduanya. Larinya panik dan penuh dengan tatapan berterima kasih. Karel dan Didit ia tinggalkan begitu saja.
"Makasih! Makasih banyak!" Ucap Bella berkali-kali. Ia mengambil alih kucingnya dari dekapan Mira lalu mengelus dan memeluknya penuh rasa sayang. Mira hanya bisa tersenyum kaku di tempatnya, masih canggung untuk berbicara dengan gadis itu. "Kebetulan tadi Mira dengar ribut-ribut dari luar, makanya Mira ke luar. Mira kira ada yang lagi bertengkar. Waktu mau mendekati kalian, kucingnya mau ketabrak motor dan..."
"Aku udah tahu. Makasih banyak," potong Bella, menghentikan semua penjelasan panjang Mira. Bella menatap Mira dan kucingnya bergantian lalu menghela nafas panjang. "Aku berhutang budi padamu. Kau bisa mengajukan satu permintaan padaku, apa saja sebagai balasan jasamu...," ucapnya lagi. Mira memandangnya bingung, "Permintaan?"
"Ya, tapi aku tidak bisa mengabulkan satu hal, menghidupkan orang mati...."

***



Mira memutar semua kejadian akhir-akhir ini di dalam pikirannya. Ia berpangku tangan, mencoba mengingat semuanya. Ada beberapa hal aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Pertama, kepulangan Karel yang tiba-tiba. Kedua, sikap Didit dan Bella yang tiba-tiba bicara padanya dan tampak benar-benar anti sama Karel. Ketiga, permintaan yang ditawarkan Bella sebagai balas budi karena aksi penyelamatannya. Ya, semuanya terasa ganjil, tidak normal. Pasti ada kenyataan yang tersembunyi di balik semua ini. Ia menghembuskan nafas kuat-kuat, terlalu lelah dengan semua pemikirannya.

"Kenapa, Mir? Sakit?" Tanya Karel yang tengah berjalan di sampingnya. Mira menoleh lalu menggeleng pelan seraya tersenyum, "Nggak, kok. Nggak apa-apa, cuma agak capek aja..." Jawabnya. Karel tampak khawatir, "Mendingan Mira banyak-banyak istirahat aja. Takutnya Mira kenapa-napa...," cerocosnya. Keduanya memang sedang berjalan kaki menuju sekolah Mira. Satu hal lagi yang Mira sadari, keduanya tidak pernah naik transportasi karena Karel selalu memintanya untuk jalan kaki. Karel juga mengantar jemputnya selama ia berada di Medan, dan selalu jalan kaki. Aneh. Setahu Mira, rumah nenek Karel cukup jauh dari rumahnya.
Ada perasaan aneh yang menerpa hati gadis itu. Entah kenapa ia ingin menghindari Karel untuk sementara waktu, setidaknya untuk menata pikirannya agar dapat mencerna apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini. "Karel...," panggilnya. Karel menoleh, "ng?"
"Nanti nggak usah jemput Mira dulu. Hari ini ada les di sekolah...," bohongnya, "Kita ketemu di tempat biasa aja, ya?"
Karel mengingat tempat yang dimaksud Mira. Sebuah gedung tua yang jarang didatangi orang. Di samping bangunan itu terdapat banyak besi-besi tua penuh karat. Sebenarnya tempat itu cukup bahaya untuk didatangi, tapi itulah tempat penuh kenangan bagi keduanya. Lelaki itu menganggguk, "Ya udah, nanti aku tunggu di sana."
Keduanya sampai di depan sekolah Mira dan berpisah di sana. Mira memandang punggung Karel yang mulai menjauh. Insting kewanitaannya berkata kalau dia harus menghindari Karel untuk saat ini dan seterusnya...
***

Gundah. Itu yang terus dirasakan Mira seharian ini. Gerimis yang semakin deras membasahi dirinya tak lagi ia pikirkan. Ia hanya ragu untuk menemui Karel. Perasaannya tak enak, dia yakin akan hal itu. Seakan ada dorongan untuk pulang begitu saja tanpa menemui sahabatnya itu. Tapi janji adalah janji dan dia tidak suka ingkar janji. Mau tak mau kakinya terus melangkah menuju bangunan tua itu.

"Mira!"
Gadis itu menoleh. Ibu penjaga warung tempat ia makan bersama Karel dua hari lalu menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh. Mira memandangnya heran. Sudah lama ia kenal ibu itu dan baru kali ini ia melihatnya seheboh itu. "Ada apa, Bu?"
"Waktu terakhir kau makan di sini, kau tampak aneh kali!" Cerocos ibu itu langsung. Mira mengerutkan alisnya, "Aneh gimana? Orang Mira biasa aja, kok!"
"Kau bicara sendiri, tertawa sendiri... Kau buat pelanggan Ibu pada lari semua, mereka kira kau gila," Ibu itu menghentikan ucapannya, tubuhnya agak bergidik menjauhi Mira, "...kau belum gila kan?" Tanyanya takut-takut.
Mira tertawa canggung, "Ibu bercanda kan? Waktu itu Mira datang sama teman Mira, kok! Ibu juga udah kenal dia. Si Karel lho, Bu!" Ucapnya tak percaya. Kali ini Ibu itu mengerutkan keningnya, semakin menambah banyak jumlah kerutan di wajah letihnya, "Ibu lihat sendiri kalau kau datang sendirian, terus ngomong-ngmomong sendiri, ketawa sendiri persis orang gila!!"
"Tapi..."
"Pokoknya jangan datang ke warung Ibu lagi kalau kau masih gila! Nanti pelanggan Ibu pada lari gara-gara tingkahmu!" Tandas Ibu itu mengakhiri pembicaraan. Dengan langkah takut-takut si Ibu menjauhi Mira yang masih terbengong bingung. Bertambah lagi hal aneh yang terjadi padanya.
"Aku yakin barengan sama Karel waktu itu... Kok..?" Mira semakin gundah. Kepalanya semakin sakit memikirkan semuanya. Langkahnya melambat, dirinya sudah semakin dekat dengan gedung tua tujuannya. Tapi hatinya semakin ragu untuk datang ke sana.
"Haruskah aku datang ke sana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah aku sampai di sana? Bagaimana kalau ternyata Karel sudah berubah menjadi orang jahat? Bagaimana kalau...," semua pikiran negatif berseliweran di kepalanya. Semakin ia melangkah, semakin berat hati dan pikirannya. Tanpa ia sadari ia sudah sampai di tempat itu.
Mira menghela nafas panjang, menghimpun kembali semua keinginannya untuk bertemu Karel. "Setidaknya aku ingin menemuinya untuk terakhir kali sampai hatiku leluasa menemuinya...," lirihnya dalam hati.

Mira melangkah ke dalam pekarangan tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat, tapi ia sama sekali tak menemui sosok Karel. Yang ditangkap matanya malah betapa seramnya keadaan tempat yang ia datangi itu sekarang. Hari sudah beranjak sore dan langit mulai gelap. Suara kendaraan terdengar sepi berlalu lalang. Mira menelan ludahnya. Takut semakin memeluk dirinya.

"Sudah kubilang, jauhi dia."
Mira menoleh ke balik dinding kusam yang tak jauh darinya. Ia mengenal suara itu, suara Didit. Gadis itu melangkah mendekati tempat itu.
"Aku nggak mau," kali ini suara Karel yang kedengaran. Entah kenapa Mira merasa lega, setidaknya ia tidak sendirian menghadapi lelaki kaku itu. Ia hendak mendekati orang-orang itu.
"Kau hantu, kau tahu?! Kau seharusnya nggak ada di sini!! Jangan ganggu dia!!" Kali ini pekikan Bella berhasil membuat langkah Mira terhenti. Tubuhnya menegang kaku dan suhu tubuhnya mendingin. Perlahan bulu kuduknya berdiri. Matanya terbelalak lebar dengan mulut yang meenganga tanpa sadar. 'Hantu'? Itu bohong kan?
"Iya! Kalau aku hantu, memangnya kenapa?! Toh aku nggak ngeganggu kalian. Kalian juga bukan manusia biasa kan? Jangan sok sementang kalian masih hidup!!" Kali ini Karel yang menyemburkan semua kekesalannya. Dan saat semua kalimat Karel selesai, tubuh Mira benar-benar lemas. Kakinya tak mampu menopang berat badannya lagi.
"Kami hanya ingin menyadarkanmu," terdengar suara tenang Didit, "Alammu bukan di sini lagi. Kau bisa mengacaukan hidupnya kalau kau terus muncul di depannya..." Tak ada sahutan balik dari Karel, yang terdengar malah suara kerasa decakan Bella, "Kami memang bukan manusia biasa. Aku penyihir sementara Didit memang bisa ngelihat hantu sejak masih kecil. Kami cuma mau menghindarkan hal-hal yang nggak diinginkan aja!!" Ketusnya, menambah lemas Mira yang mendengarkan semua pembicaraan mengejutkan tersebut.
"Aku... aku cuma mau ketemu Mira untuk yang terakhir kalinya... Aku cuma mau ngelihat senyumnya lagi setelah bertahun-tahun ini nggak menemuinya..... Aku...aku...," resah Karel.
"Kau menghancurkannya perlahan. Kau membuatnya tampak gila di mata orang normal," tandas Didit tajam.
"Kalau hanya untuk yang terakhir kalinya, kau takkan pura-pura hidup di matanya sampai sekarang!" Tambah Bella lagi, "Kecelakaan di Gunung Merapi itu memang bukan keinginanmu kan? Itu garisan takdir." Karel diam di tempatnya, tak tahu harus berkata apa. Bella mendekatinya, mendengus penuh tekanan, "Kebohonganmu jauh lebih menyakitinya dari pada saat kau tak bisa mengucapkan salam terakhirmu padanya. Kebohonganmu." Ia semakin mendekati Karel yang terus menundukkan kepalanya, meenatap tanah yang selama ini pura-pura dicercah kakinya. Bella mulai berbisik di telinganya, "Tak ada yang tahu apa yang kan terjadi di setiap detik lanjut selama berada di dunia ini. Sama seperti kau yang tak tahu kalau gadis itu sudah menguping pembicaraan kita sejak tadi...," ucapnya setengah berbisik.
Karel langsung mendongak. Matanya menangkap sosok Mira yang tampak menahan tangis di dekat sebongkah tembok yang mengusam. Bella menjauhkan dirinya sambil tersenyum penuh arti melihat Karel yang langsung mengejar gadis berkacamata itu.
"Kau tahu kalau dia sudah ada di sana sejak tadi, kan?" Ujar Didit. Ia melipat tangan di depan dada. Bella semakin mengembangkan senyumnya, "Yap. Ada gunanya juga mempelajari sihir walau kau melarangku setengah mati kan? Seseorang harus mengungkapkan kebenaran sebelum dia dianggap gila oleh semua penduduk dunia," sahut gadis itu santai. Namun ekspresinya berubah perlahan, "Tapi waktu kematiannya semakin dekat sampai dia bisa melihat Karel sejelas itu. Sudah saatnya bagiku mengabulkan satu permintaannya...."
Gadis itu menghilang dalam sekejap. Didit menoleh ke arah Noir, kucing hitam yang ditinggalkan Bella di samping lelaki berkulit gelap itu. Selama ini Bella begitu protektif terhadap kucingnya karena binatang peliharaan sudah seperti nyawa kedua bagi penyihir. Didit menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa, "Kapan gadis itu akan berubah?" Keluhnya.

"Mira, dengar aku dulu!" Karel meraih tangan Mira dengan susah payah, memaksa gadis itu menghadapnya. Karel bisa melihat wajah gadis itu sudah basah penuh linangan air mata. Mira menatapnya sebal, namun ada rasa takut yang tersirat dari matanya. "Karel bohong sama Mira. Nggak suka, Mira nggak suka!!" Pekik gadis itu serak. Air matanya semakin deras, "Pembohooong!!!"

"Mira!"
Pekikan Karel terlambat. Begitu Mira berhasil melepaskan diri dari pegangan Karel, tubuhnya langsung menabrak tumpukan besi tua yang tadinya tegak bersandar pada pagar beton tempat itu. Besi-besi itu langsung berjatuhan menimpa tubuh Mira yang juga terjatuh di atas sebuah pancang besi pendek yang berdiri tegak di depannya. "Kkhh!!" Hanya itu suara yang mampu keluar dari bibir Mira. Darah bermuncratan dari mulut dan sekujur tubuhnya, terutama dari dadanya di mana paru-paru kanannya sudah tertancap besi pendek itu.
"Mir...," Karel mendekati gadis itu. Mata mira menangkap samar kaki Karel yang melayang, tak lagi cercah ke tanah. Karel melihat kondisi Mira yang menyedihkan, mendengar nafasnya yang sudah tinggal satu-satu, menyentuh kulitnya yang dipenuhi genangan darah merah pekat.
"Maaf...," bisik lelaki itu pelan, "Kalau saja aku nggak mau menampakkan diriku di hadapanmu, ini nggak akan terjadi..."
"UHUK UHUK UHUK!! Hh..hh..hh..," Mira terbatuk beberapa kali yang berebut keluar bersama nafasnya. Karel semakin cemas. Ia mulai merasa Mira semakin serupa dengannya, setidaknya itu yang tampak di matanya sekarang, saat tubuh asli Mira mulai berpisah dengan ruhnya.
Mira sendiri dalam keadaan setengah sadar. Paru-parunya semakin sulit diajak kerja sama mengambil nafas. Sekarang hatinya mencekam. Akankah dia mati sekarang? Apa semua masalah dengan Karel, Bella, dan Didit akan berakhir begitu saja dengan kematiannya? Apa semua cita-cita tentang masa depannya akan lenyap begitu saja? Bagaimana nasibnya saat menghadap Tuhan nanti? Sekarang dia benar-benar takut.
"Takut?" Kali ini telinga Mira menangkap samar suara dingin Bella. Benar saja, gadis nyentrik itu tengah membungkukkan badan dengan wajah menghadapnya. Ia tersenyum tipis, "Cukup menyedihkan untuk kematian seorang gadis baik-baik...," gumamnya, "Lalu, apa permintaanmu? Aku tidak suka berhutang, terutama pada orang yang sudah mau mati."
Mira berusaha keras menarik nafas-nafas panjang, setidaknya agar dia bisa melanjutkan hidupnya sedikit lebih lama. "Ba..gai..mana.. kau.. bisa me..ngabulkan.. permintaanku...?" Sahutnya patah-patah. Baru kali ini ia merasa betapa sulitnya bicara sambil mengumpulkan nafas.
"Aku penyihir, kau tahu?" Sahut Bella santai. "Cepatlah sebelum malaikat maut benar-benar membawa jiwamu pergi."
Mira memejamkan matanya. Nafasnya hanya tinggal satu-satu. Semua bayangan orang-orang yang berharga baginya terus melintas dan membayangi pikirannya. Ibunya, ayahnya, abang-abangnya, adiknya, teman-temannya, sahabat baiknya, dan satu orang yang terus memenuhi otaknya akhir-akhir ini, Karel. Senyum Karel terlintas di otaknya, menghidupkan arus ide di kepalanya. Akhirnya ia menemukan satu permintaan yang tepat untuk diajukan, permintaan yang mewakili seluruh jiwanya untuk saat ini.
"Jadi, apa permintaanmu?" "...Putar...kem..bali ...waktu...sam..pai sa..at di ma..na.. Karel..belum..mati... Hh..hh..hh.. Agar...aku..bi..sa..menghindar...kannya...dari takdir ini...," ujar Mira dengan segenap tenaganya yang tersisa. Bella melempar pandangannya pada Karel yang tertegun dengan isi permintaan Mira. Bella tersenyum, kali ini melembut, "Permintaan yang baik dari gadis baik. Sebenarnya merepotkan kembali mengulang lagi semua hal yang sudah kulakukan, tapi baiklah."
Telinga Mira mendengar samar suara Bella yang mengucapkan mantra-mantra asing. Hanya beberapa saat dan kemudian gadis itu benar-benar tak lagi sadarkan diri. "Aku hanya ingin menghindari takdir ini... Itu saja...," lirihnya dalam hati. Dan hening pun menghampirinya.
***

"Mira, bangun!! Sampai kapan mau tidur terus? Nih, ponselmu berisik kali dari tadi!!"

Suara itu suara yang amat dikenali Mira, suara judes abangnya yang kedengarannya sekarang sudah berdiri di sampingnya. Mira mengerjapkan matanya, menatap samar sosok abangnya yang masih belum begitu tampak jelas.
"Apa, bang? Siapa yang nelpon?" Mira bangkit dari tidurnya lalu duduk sambil mengucek matanya.
"Mana Abang tahu! Lihat aja sendiri, noh!"
Mira mengangkat alis, "Aneh, rasanya seperti deja vu...," batin gadis itu dalam hati. Ia mengangkat telponnya sambil menguap lebar, "Halo?"
Seperti yang Mira duga, itu Karel. Sahabatnya itu kembali menelpon setelah sekian lama tidak menghubungnya.
"Apa kabar? Udah lama Karel nggak nelpon Mira..."
"Baik-baik aja. Aku cuma mau sekedar ngasih tahu kalau aku mau ikut jalan-jalan sama teman-temanku ke Gunung Merapi di Yogya. Mau aku kirimin oleh-olehnya nanti?"
Tidak, Mira merasa ini tidak benar. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia harus melarang Karel pergi ke tempat itu. Harus. Kepanikan muncul di hati Mira. Ada yang harus dihindarinya. Ya, dia harus menghindari nasib buruk yang bisa terjadi nanti. Nasib buruk yang rasanya benar-benar nyata bahkan sebalum ia mengalaminya. Jantung Mira berdebar keras, nafasnya semakin cepat. Ia harus menghentikan rencana sahabatnya itu.
"Jangan!! Jangan pergi, Rel!!"


---THE END---

1 komentar:

Kazufah mengatakan...

Like this. .^^ Emang kalau karya bela, TOP hihi:D

Posting Komentar

Tolong berikan tanggapan Anda!

.